Secret

Entries from November 2006

EKSPERIMEN PHILADELPHIA

November 16th, 2006 · 3 Comments

Artikel ini telah dipindah ke Everything About World dengan beberapa keterangan tambahan

Menurut teori Albert Einstein, mengatakan bahwa dalam perhitungan-perhitungan ilmiah, manusia tidak hanya berurusan dengan tinggi, lebar dan panjang; melainkan juga dengan satu dimensi lain, yaitu waktu. Sebuah teori Einstein menyatakan bahwa konsep ruang waktu dan energi materi bukanlah dua kesatuan yang terpisah sama sekali. Keduanya bisa terjalin dalam keadaan tertentu. Dan kalau itu benar-benar terjadi, tidaklah mustahil benda bisa muncul dan lenyap secara mendadak, seakan-seakan mengalami proses dematerialisasi. Di mana proses pelenyapan pesawat terbang, kapal dan lainnya di Segitiga Bermuda tidak lain karena peristiwa ini.

Mungkin teori Einstein itu terlalu membingungkan. Penguraian teori yang rumit tersebut adalah sebagai berikut. Suatu muatan listrik pada sebuah kumparan tentu akan menciptakan medan magnetik tertentu yang menuruti arah kedua bidang tegak dan mendatar. Dengan jalan ini, mungkin sebuah medan lain (gravitasi?) dapat diciptakan menurut prinsip resonansi. Caranya ialah dengan menggantungkan sebuah generator elektromagnetik sedemikian rupa sehingga menciptakan pulsa-pulsa magnetik. Medan yang terjadi tersebut akan mengadakan “penyatuan” dengan kedua medan tegak dan mendatar itu.

Kalau kita mengembangkan pelaksanaan teori Einstein tentang “Unified Field” (penyatuan medan) yang menyatukan medan gravitasi dan elektromagnetik ke dalam teori ruang waktu, maka medan magnetik kalau cukup kuat akan dapat meyebabkan barang/benda atau manusia berubah dimensi dan menjadi tak tampak. Pandangan teori “Unified Field” kemudian disamakan dengan peristiwa segitiga bermuda. Dengan kata lain, kita pasti akan dapat membuat sebuah alat yang diinginkan oleh para penghayal yaitu “mesin waktu”.

Sekarang marilah kita mencoba mengikuti eksperimen Philadelphia. Secara tak sengaja Angkatan Laut Amerika Serikat menemukan praktek penyatuan medan ini ketika mengadakan percobaan rahasia di sebuah kapal perusak pada tahun 1943 (ketika masih Perang Dunia II). Karena percobaan dilaksanakan di Philadelphia, maka kemudian eksperimen ini lebih dikenal sebagai Percobaan Philadelphia.

Tujuan intinya adalah menyelidiki pengaruh medan magnetik terhadapa kapal laut dan seisinya. Dua buah generator, yang satu menghasilkan pulsa magnetik dan yang satu tidak dihidupkan bersama-sama sehingga tercipta medan magnetik diatas dan disekeliling kapal. Hasilnya memang mengejutkan dan memang sangat penting, meskipun menimbulkan akibat buruk pada awak kapalnya.

Ketiga eksperimen mulai dijalankan, tampak suatu sinar kehijauan samar-samar. Perlu diketahui, bahwa laporan dari orang yang selamat dari Segitiga Bermuda, mengatakan menyaksikan kabut kehijauan. Peristiwa selanjutnya yang terjadi ialah seluruh kapal kemudian terselimuti kabut hujau dan akhirnya kapal bersama awaknya menghilang dari pandangan pengamat dan hanya garis permukaan laut yang kelihatan. Kapal itu tampak dan menghilang lagi, tampak dan menghilang lagi di daerah Norfolk, Virginia. Jadi percobaan itu dapat dikatakan sesuai dengan teori Unified Field.

Menurut seorang bekas awak kapal perusak itu, percobaan berhasil baik di lautan. Mereka telah berhasil menciptakan “ruang waktu” berbentuk spiral. Ruang waktu itu mempunyai radius sampai seratus yard atau 91 meter dari pusat pancaran magnetik, yang artinya setiap benda, manusia bila berada dalam radius itu akan lenyap dari pandangan, tetapi masih mungkin dapat diraba. Ketika kapal itu lenyap dari pemandangan, hanya lekukan kapal pada permukaan air yang tertindih kapal itu yang kelihatan. Semakin diperkuat gaya medan magnetik, mengakibatkan manusiapun turut lenyap, dan untuk dapat diketemukan, harus dengan jalan rabaan. Mereka baru tampak kembali setelah keluar dari medan magnetik itu. Istilah pelenyapan itu oleh mereka disebut “sedang mencair”.

Memang percobaan itu kelihatan berhasil, tetapi memerlukan korban yang tidak sedikit. Ada orang (awak kapal itu) yang akhir nya meninggal, ada beberapa lagi yang kehilangan ingatan. Tetapi ada juga yang membawa akibat baik. Yaitu ada orang yang indera keenamnya bertambah tajam. Yang lucunya, beberapa orang masih membawa akibat percobaan itu, yaitu kadang-kadang dengan sendirinya lenyap dan muncul lagi, baik di rumah lebih-lebih bila dijalan/dimasyarakat dapat mengejutkan orang yang melihatnya.

Percobaan Philadelpia ini sebenarnya sangat dirahasiakan. Dengan percobaan ini sekaligus diketemukan sebab-sebab kecelakaan di Segitiga Bermuda dan pembuktian teori Einstein “Unified Field” ternyata benar. Einstein sendiri belum pernah mencoba, karena ia telah meninggal dunia. Teori ini entah sengaja atau tidak telah terbukti, sehingga para ilmuwan tidak lagi meragukan. percobaan ini mengingatkan kita pada piring terbang yang menghilang bila sedang terbang. Inipun antara lain disebabkan adanya medan magnetik yang berasal dari piring terbang itu, tentunya tanpa membawa akibat apa-apa bagi awaknya.

Tags: Uncategorized

Pembangunan Piramida dan Candi Borobudur Dibantu Makhluk Angkasa Luar?

November 12th, 2006 · 1 Comment

Banyak orang telah mengenal piramida. Piramida adalah bangunan modern pada masa purba yang terdapat di Mesir. Bangunan ini disusun bertingkat, makin ke atas makin kecil. Piramida terdiri atas ribuan bongkahan batu. Tiap batu mempunyai berat sekitar dua ton. Diperkirakan berat sebuah piramida mencapai jutaan ton. Bila dideretkan maka panjang batu pada piramida Cheops, piramida terbesar di Mesir, melebihi panjang pantai Amerika dari utara ke selatan.

Author: Djulianto Susantio
——————–


Bagaimana membuat piramida, berapa lama waktu untuk menyelesaikannya, dan berapa banyak orang yang mengerjakannya? Sejak lama para pakar masih belum bisa memberikan jawaban memuaskan. Hanya sebagian misteri yang berhasil diungkapkan, antara lain oleh arkeolog Inggris Howard Carter terhadap makam Tutankhamen di dalam sebuah piramida.
Carter dan tim ekspedisinya menemukan terowongan berikut tangga yang tersusun rapi dan sejumlah catatan tertulis. Di dalam terowongan itu terdapat makam raja dan keluarganya yang mayatnya sudah diawetkan (mumi). Perhiasan emas, prasasti yang berisi kutukan, dan gambar dinding. Perlu waktu puluhan tahun untuk melakukan ekskavasi di sini.

Eksperimen
Banyak pakar menduga piramida dibangun dari bagian bawah terus ke atas. Tangga naik, untuk meletakkan batu-batu di atasnya, menggunakan punggung bukit. Setelah bagian tertinggi rampung, maka bukit tersebut dipangkas habis. Dengan demikian yang tersisa hanyalah piramida.

Yang masih sukar diperkirakan adalah bagaimana membawa batu seberat dua ton ke atas. Kalau dengan kerekan, berapa besar kerekannya? Kalau dengan batang pohon, bagaimana menggelindingkan batu yang demikian berat itu? Masalahnya, salah perhitungan sedikit saja, nyawa terancam melayang. lni karena bentuk piramida Mesir sangat landai, tidak berundak sebagaimana piramida Amerika Selatan.

Ditafsirkan, piramida dikerjakan selama berpuluh-puluh tahun. Bahan bangunan kemungkinan besar berasal dari sepanjang sungai Nil dan daerah-daerah di sekitar tempat piramida berdiri.
Beberapa tahun lalu pakar-pakar Jepang, Prancis, dan negara-negara maju pemah melakukan eksperimen untuk membuat piramida tiruan. Mereka menggunakan alat-alat berat dan alat-alat modern, termasuk helikopter sebagai alat pengangkut batu.
Pada tahap pertama. mereka mengawalinya dari bagian bawah. Ternyata pembangunan piramida tidak rampung. Begitu pula ketika dimulai dari bagian atas.

Mengapa teknologi masa kini tidak mampu menyaingi teknologi purba? Benarkah pekerja-pekerja Mesir dulu dibantu tenaga gaib para jin dan dewa sehingga berhasil mendirikan bangunan supermonumental itu?

Piramida Mesir tidak dibuat sembarangan. Ada kaidah-kaidah tertentu yang harus ditaati. Pada bagian atas piramida terdapat sebuah lubang. Lubang ini menghadap ke arah matahari terbit. Hal ini tentu dimaklumi karena bangsa Mesir purba menganggap dewa Ra (Matahari) sebagai dewa tertinggi. Uniknya, bila bentuk piramida direbahkan ke atas tanah, maka sudut-sudutnya tepat berada di garis lingkaran. Dengan adanya bentuk demikian disimpulkan bahwa pembangunan piramida direncanakan dengan teliti. Apalagi bayangan matahari pada piramida tadi menunjukkan musim-musim yang ada di tanah Mesir.
Menurut sejumlah ahli Egyptotogi (pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan Mesir), makna simbolis pada piramida begitu besar. Tulisan-tulisan hieroglif menyiratkan ada unsur magis pada bangunan itu.

Candi Borobudur
Tahun 1930-an W.O.J. Nieuwenkamp pernah memberikan khayalan ilmiah terhadap Candi Borobudur. Didukung penelitian geologi, Nieuwenkamp mengatakan bahwa Candi Borobudur bukannya dimaksud sebagai bangunan stupa melainkan sebagai bunga teratai yang mengapung di atas danau. Danau yang sekarang sudah kering sama sekali, dulu meliputi sebagian dari daerah dataran Kedu yang terhampar di sekitar bukit Borobudur. Foto udara daerah Kedu memang memberi kesan adanya danau yang amat luas di sekeliling Candi Borobudur.

Candi Mendut
Menurut kitab-kitab kuno, sebuah candi didirikan di sekitar tempat bercengkeramanya para dewa. Puncak dan lereng bukit, daerah kegiatan gunung berapi, dataran tinggi, tepian sungai dan danau, dan pertemuan dua sungai dianggap menjadi lokasi yang baik untuk pendirian sebuah candi.

Candi Borobudur didirikan dekat pertemuan Sungai Eto dan Progo di dataran Kedu. Tanpa bantuan peta sulit bagi kita sekarang untuk mengenali kedua sungai itu. Untuk menentukan lokasi candi mutlak diperlukan pengetahuan geografi dan topografi yang benar-benar handal. Sungguh mengagumkan nenek moyang kita sudah memiliki pengetahuan seperti itu.
Bangunan Candi Borobudur dianggap benar-benar luar biasa. Bahan dasarnya adalah batuan yang mencapai ribuan meter kubik jumlahnya. Sebuah batu beratnya ratusan kilogram.

Hebatnya, untuk merekatkan batu tidak digunakan semen. Antarbatu hanya saling dikaitkan, yakni batu atas-bawah, kiri-kanan, dan belakang-depan.

Yang mengagumkan, bila dilihat dari udara, maka bentuk Candi Borobudur dan arca-arcanya relatif simetris! Kehebatan lain, di dekat Candi Borobudur terdapat Candi Mendut dan Candi Pawon. Ternyata Borobudur, Mendut, dan Pawon jika ditarik garis khayat, berada dalam satu garis lurus. Maka kemudian orang mereka-reka bahwa pembangunan Candi Borobudur juga dibantu para jin, dewa, dan ”orang pintar” lainnya.

Angkasa Luar
Tahun 1970-an muncul Erich von Daniken, seorang pengarang fiksi ilmiah (science fiction), yang bukunya sangat populer. Beberapa karyanya seperti Kereta Perang Para Dewa, Kembalinya Bintang-Bintang, Emas Para Dewa, Mencari Dewa-Dewa Kuno, dan Mukjizat Para Dewa berhasil membius jutaan pembacanya dengan khayalan yang sulit dipercaya namun dapat juga dicerna akal sehat.

Di dataran tinggi Nazca (Peru), demikian awal kisah, terdapat sebuah lajur tanah rata yang panjangnya lebih dari 50 kilometer. Para arkeolog menafsirkannya sebagai ”jalan raya bikinan bangsa Inca”. Namun von Daniken menganggapnya sebagai ”landasan bandar udara untuk melayani penerbangan antarbintang”, apalagi dia berhasil mengaitkannya dengan sejumlah temuan arkeologi.

Dengan imajinasinya von Daniken mengatakan pasti ada planet lain yang dihuni oleh makhluk sejenis manusia. Penghuni planet itu adalah makhluk-makhluk yang kecerdasan otak dan peradabannya melebihi manusia biasa. Berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu makhluk-makhluk ini berkunjung ke bumi mengendarai wahana antariksa yang dapat mengarung angkasa dengan kecepatan supertinggi. Ternyata khayalan von Daniken didukung oleh berbagai tinggalan arkeologi.

Pada sebuah peta dari Istana Topkapi di Turki, tergambar benua Amerika dan Afrika dengan di bawahnya daratan Antartika di kutub selatan. Penggambaran peta demikian hanya mungkin dilakukan melalui pemotretan dari jarak jauh di angkasa. Bila dicermati peta kuno itu sama benar dengan peta bikinan Angkatan Udara AS hasil proyeksi sama jarak dari titik tolak di Mesir.

Di Val Camonica (Italia) dan di Tassili (Gurun Sahara) terdapat lukisan dinding yang menggambarkan orang berpakaian seperti astronot zaman sekarang, lengkap dengan baju tebal dan helm. Bahkan helmnya menutupi seluruh kepala dan dilengkapi antena. Kalau begitu benarkah dulu pemah terjadi penerbangan angkasa luar yang dilakukan makhluk dari planet lain ke bumi?

Dalam perkembangannya makhluk dari angkasa luar itu berubah wujud menjadi tokoh dewa, sering dipuja masyarakat purba. Adanya dewa tergambar jelas dari mitologi dan berbagai kitab keagamaan di pusat-pusat kebudayaan kuno, seperti di Maya, Inca, Mesopotamia, India, Mesir, Yunani, Romawi, dan Indonesia. Dalam mitologi dan kitab keagamaan digambarkan para dewa bersemayam jauh di atas sana dan sewaktu-waktu dapat berkunjung ke bumi, baik dengan terbang secara langsung maupun menggunakan wahana antariksa.

Sampai kini kita belum dapat memberikan jawaban yang pasti apakah pembangunan piramida dan Candi Borobudur memang benar-benar dibantu makhluk dari angkasa luar ataukah keterampilan bangsa sekarang masih minim. Teori siapakah yang harus kita ikuti, teori von Daniken yang imajinatif dan bobot ilmiahnya kurang meyakinkan ataukah teori para arkeolog yang saintifik? Sayang teori yang saintifik itu masih misteri seperti halnya misteri yang masih menyelimuti piramida dan Candi Borobudur. (*)

Author adalah anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia

Source  : http://forum.webgaul.com/showthread.php?s=&threadid=52669&perpage=15&pagenumber=9

Tags: Uncategorized

The Ica Stones

November 12th, 2006 · No Comments

Di sebelah utara Pampa Colorada, Peru terdapat Desa Ica, sebuah desa petani yang menjadi rumah seorang fisikawan Peru bernama Dr. Javier Cabrera. Pada 1966, tepat pada hari ulang tahunnya, seorang petani datang menemui Dr. Cabrera dan menyerahkan sebuah hadiah. Sebuah hadiah yang akan mengubah jalan hidup Dr. Cabrera selamanya.

Hadiah sederhana itu adalah batu kecil. Tampak tidak istimewa. Namun ada sebuah pahatan gambar menarik di batu itu. Gambar sebuah spesimen ikan yang tampak asing. Iseng-iseng Dr. Cabrera meneliti gambar spesimen itu dan betapa terkejutnya ia mendapati bhw spesimen ikan tsb adalah ikan purba yang telah punah ribuan rahun yg lampau.

Segera ia menanyakan pada petani sahabatnya dimana ybs menemukan batu kecil ini. Si petani menyebutkan lokasi sebuah gua dimana ia menemukannya. Dr. Cabrera lalu menjanjikan akan membeli batu-batu yang bergambar darinya jika si petani dapat menemukannya lagi. Pada akhirnya ia mendapatkan 15.000 lebih keping bebatuan yang menjadi koleksi pribadi Dr. Cabrera.

Kabar tentang bebatuan bergambar yang ditemukan oleh petani ini lalu menyebar luas dan didengar oleh BBC yang lalu mendokumentasikan penemuan batu-batu tsb. Berita yang dilansir BBC membuat pemerintah Peru penasaran dan mengadakan penyelidikan resmi. Mereka menginterogasi si petani tentang asal usul batu-batu itu. Pemerintah Peru mengancam, si petani akan masuk penjara jika berani menjual harta karun berharga negara tsb pada siapa saja (Peru mempunyai UU barang antik yang sangat ketat). Si Petani lalu mengubah ceritanya. Di versi cerita tsb ia mengatakan bhw ia mengambil batu-batu kali dan memahatnya dengan gambar-gambar menarik lalu dijual ke turis. Pemerintah tampak puas dengan penjelasan ini. Pemerintah lalu mengumumkan bhw batu-batu tsb tidak mempunyai nilai sejarah sama sekali kecuali hanya sekedar souvenir yang dijual pada para turis. Kecaman yang bertubi-tubi ditujukan pada BBC karena menyebarluaskan berita penemuan batu-batu yang tidak bermutu.

Batu kecil yang dimaksudkan sebagai hadiah itu lalu berubah menjadi penelitian seumur hidup bagi sang fisikawan. Dr. Cabrera mengerti bhw petani sahabatnya harus mengubah cerita agar tetap selamat. Apa yang membuat ia amat tertarik dengan bebatuan tsb adalah pahatan yang menggambarkan banyak hal-hal yang amat menakjubkan, yang tidak mungkin dipahat oleh seorang petani yang bahkan tidak menamatkan pendidikan dasarnya.

Maka selama 30 tahun terakhir dalam hidupnya Dr Cabrera mendedikasikan semua sumber dayanya untuk melakukan penelitian mengenai batu-batu tsb. Ia berusaha keras agar komunitas ilmuwan mau ikut berpartisipasi dalam penelitian ini. Usaha yang tidak mudah memang, karena stigma negatif telah tertanam dalam benak komunitas ilmuwan mengenai “bebatuan palsu” yang dipahat seorang petani Peru.

Tidak menyerah pada penolakan kaum ilmuwan, Dr Cabrera lalu membuka sebuah museum sehingga khalayak ramai dapat melihat-lihat batu-batu Ica ini. Minatnya yang begitu besar pada bebatuan Ica menghantarkan Dr. Cabrera menjadi seorang arkeologis dan geologis amatir selain minatnya yang besar pada dunia Fisika.

Dr. Cabrera mengkategorikan koleksinya berdasarkan subyek pahatan. Ada kategori manusia, hewan-hewan kuno, dan benua-benua yang hilang serta pelbagai macam bencana global.

Ada pahatan yang menggambarkan aliran darah dan arteri pembedahan jantung, transplantasi jantung bahkan transplantasi otak, pembedahan caesar dengan metode akupuntur sebagai anestesi, artificial life support system, dll

Ada pula batu yang menggambarkan peta Bumi dilihat dari udara dengan susunan benua yang sama sekali berbeda dengan yang kita kenal sekarang. Ketika gambar peta ini di perbandingkan melalui simulasi komputer maka para ilmuwan mendapatkan bhw susunan benua tsb sangat akurat dengan susunan benua kira-kira 13 juta tahun yang lampau di planet Bumi. (Peta kuno tsb juga menggambarkan benua Atlantis dan Lemuria).

Ada pula penggambaran manusia sedang mengobservasi planet-planet, komet dan susunan bintang-bintang. Beberapa lainnya menggambarkan manusia dan hewan spt dinosaurus hidup bersama, bahkan mengendarai si dino, di darat dan di udara! Gambar-gambar di bebatuan Ica sangat akurat, contoh gambar dinosaurus yang dipahat di batu, diketahui pernah hidup di Bumi, juga konfigurasi planet dan bintag-bintang semuanya tepat berada di orbit mereka.

Siapa yang membuat gambar2 di batu2 tsb? Good Question! Setelah meneliti selama 30 tahun, Dr. Cabrera punya teorinya sendiri mengenai Ica Stones. Teorinya begini:
Pada jaman baheulaaaaaaaaaaaaaaaaa pisan planet Bumi dihuni oleh sebuah peradaban yang amat advance yang kemungkinan besar datang dari Pleiades Star System. Mereka mendarat di Bumi dan mengkoloni planet ini. Bukannya beradaptasi dengan kondisi di Bumi, mereka berusaha mengendalikan alam di planet agar sesuai dengan kondisi mereka. Peradaban ini mencoba memanipulasi alam dengan kecanggihan teknologinya, namun usaha tsb gatot alias gagal total (viva mother nature!) Manipulasi alam dengan kecanggihan teknologi mereka malah mengakibatkan topan besar, banjir bandang, dan gempa bumi (banjir lumpur panas engga ada kali ye…. . Setelah sekian lama mencoba mengendalikan alam, akhirnya mereka nyerah dan bersiap-siap meninggalkan bumi kembali ke ibu pertiwi mereka di Pleiades. Mudiknya para alien ini digambarkan dalam salah satu pahatan bergambar.

Dr. Cabrera juga percaya bhw Pampa Colorada adalah spaceport peradaban kuno tsb. Ia menduga para alien pleiades menggunakan semacam energi elektromagnetik untuk menerbangkan pesawatnya. (salah satu bebatuan koleksi si doktor menggambarkan hal ini) Fakta juga membuktikan bhw Pampa Colorada mengandung deposit bijih besi dalam jumlah berlimpah yang dapat menambah kekuatan medan energi elektromagnetik.

Orang-orang yang mengenal Dr. Cabrera menceritakan bhw ia adalah sosok yang sangat ramah dan jujur. Ia juga amat berdedikasi terhadap penelitian Ica Stones. Rumor mengatakan bhw Dr. Cabrera mempunyai secret chamber di Museumnya. Ruang rahasia ini untuk menyimpan beberapa batu Ica yang sangat special. Disebut special karena –konon- batu-batu yang satu ini mempunyai “pesan bagi kemanusiaan”. Pesan2 ini dirahasiakan oleh pihak Museum Ica Stones sampai waktu yang tepat bagi umat manusia untuk mendengar pesan-pesan ini.

Karena teori-teorinya yang kontorversial dan karena antusiasmenya yang besar pada Ica Stones, Dr Cabrera di-asingkan dari komunitas Ilmuwan. Namun sampai akhir hayatnya ia tetap bersemangat melakukan penelitian pada Ica Stones. Dr. Cabrera meninggal dunia karena kanker pada Desember 2001. God Bless Him!

Beliau selalu mengatakan begini pada orang-orang yang meragukan keaslian batu-batu Ica: “Jika kalian pikir petani kawanku itu yang menggambar semua bebatuan Ica yang ia temukan maka ia haruslah seorang yang amat mendalami tentang susunan planet dan bintang, ia haruslah mempunyai pengetahuan advance medis, geologi. Geografi, paleoantropologi, paleoclimatologi, paleomagnetism, archaeoastronomy, archeology, dll.

Sceptics can’t explain how the farmer could carve more than 15.000 stones (other than to say that he’d had help), nor can they justify why an ignorant laborer would go to the trouble of doing all this just to sell rocks to tourist. Cynics also can’t account for those maps of ancient origin, which show how Earth looked in earlier days as confirmed by geologist using computer simulation. In other words, the Ica Stones still remain a mystery that no one can explain with any sort of incontrovertible proof – which, of course, is why they’re still a mystery.

Source  : http://forum.webgaul.com/showthread.php?s=&postid=2645944#post2645944

Tags: Uncategorized