Secret

Puncak Cahaya Abadi

December 16, 2006 · 1 Comment

Ada sebuah tempat bernama "puncak cahaya abadi" di Bulan, yakni suatu
wilayah dimana Matahari tidak pernah terlihat tenggelam, demikian
diungkapkan para astronom.

Puncak yang selalu mendapat sinar Matahari itu ditemukan oleh tim peneliti
yang dipimpin Dr Ben Bussey dari Universitas Johns Hopkins, setelah mereka
mempelajari foto-foto kutub Bulan yang diambil oleh wahana penjelajah
Clementine tahun 1994.

Berdasar foto-foto itu dibuatlah suatu model film untuk mencari tahu
bagaimana cahaya mengalami perubahan di sana dari waktu ke waktu. Mereka
menemukan ada empat tempat di pinggiran kawah Peary –kawah selebar 73
kilometer– yang selalu mendapatkan cahaya sepanjang hari.

Puncak cahaya abadi

ada tempat di Bulan yang selalu mendapat cahaya terus meneurs, seperti di
bibir kawah ini

Mengapa tempat-tempat itu selalu mendapat cahaya Matahari? Untuk menjawab
pertanyaan ini, kita terlebih dahulu harus memahami bahwa sumbu rotasi
Bulan memiliki kemiringan sekitar 1,5 derajat relatif terhadap bidang
orbit Bumi mengelilingi Matahari. Akibatnya Bulan memiliki musim-musim
singkat dan kondisi pencahayaan khusus di kutub-kutubnya.

Kecilnya kemiringan sumbu berarti pula adanya dasar kawah-kawah dan
dinding-dinding kawah (yang menghadap ke arah kutub), yang tidak pernah
melihat Matahari sama sekali. Namun adakah puncak-puncak atau tonjolan
bibir kawah yang selalu diterangi sinar Matahari?

Sebelumnya ada dugaan bahwa tidak ada tempat di Bulan yang bisa disebut
puncak cahaya abadi. Diyakini tidak ada satu titik pun yang mendapat
cahaya permanen tanpa jeda, meski beberapa riset telah mengidentifikasi
ada beberapa wilayah di kutub utara yang mendapat penerangan selama 95
persen setiap harinya.

Nah, hasil analisa tim Johns Hopkins mengatakan bahwa pendapat di atas
mungkin terlalu dini disimpulkan. Disebutkan, tidak seperti kutub selatan
Bulan yang tidak memiliki pegunungan bercahaya abadi, kutub utara Bulan
ditengarai mempunyai puncak-puncak yang mendapat cahaya terus menerus
–setidaknya selama musim panas.

Berbicara di Konferensi Ilmu Pengetahuan Bulan dan Planet di Houston,
Texas, awal minggu ini, Ben Bussey menggarisbawahi cahaya abadi yang kini
terlihat itu bisa jadi merupakan efek musiman yang mungkin akan hilang
pada musim dingin. Sayang sekali, para ilmuwan tidak memiliki data
pencahayaan di sana pada musim dingin.

Basis Bulan utama

Bila dipandang dari program-program misi ruang angkasa, keberadaan puncak
yang diterangi cahaya tiap waktu di kutub utara Bulan, membuat lokasi itu
menjadi tempat tujuan menarik untuk penelitian serta untuk membangun
stasiun bulan yang pertama.

Lokasi dekat kutub utara Bulan yang mendapat cahaya secara konstan
pastilah merupakan lingkungan yang cukup ramah bagi manusia. Perubahan
suhu hariannya diperkirakan hanya sekitar 20 derajat Celcius, sehingga
operasional stasiun lebih mudah dibanding di ekuator bulan yang suhunya
bisa berubah 250 derajat tiap hari.

Selain itu, tim Bussey juga melihat wilayah luas yang selalu berada dalam
bayangan. Wilayah seperti itu bisa jadi menyimpan air beku di balik tanah.
Keberadaan air beku di wilayah berbayang ini sesungguhnya sudah
diidentifikasi oleh misi Clementine dan Lunar Prospector, serta juga telah
terdeteksi oleh radar radio teleskop di Arecibo, Puerto Rico.

Jadi, bila benar ada tempat-tempat bercahaya abadi di Bulan, yang
sekaligus dekat dengan sumber air (beku), maka misi ke sana pastilah makin
menantang dan menarik. (BBC/wsn)

Categories: Uncategorized



1 response so far ↓

Leave a Comment