Entries from January 2007
January 28th, 2007 · 2 Comments
Agustus 2006 lalu di Praha, IAU telah memutuskan untuk memberi definisi baru pada planet dan mereduksi jumlah planet menjadi 8, dengan menempatkan Pluto dalam kategori dwarf planet. Dengan demikian Pluto juga dikenal sebagai objek pertama yang ditemukan dalam lingkup trans neptunian object. Kilas balik sejenak, resolusi IAU menghasilkan ada 3 kategori utama dalam Tata Surya :
- Planet : 8 objek dari Merkurius - Neptunus
- Dwarf Planets : Pluto dan objek bundar lainnya yang belum menyapu bersih lingkungan disekitar orbitnya, dan bukan merupakan satelit.
- Benda Kecil di Tata Surya : semua objek lain yang mengorbit Matahari.
Keputusan IAU ini bukan lantas membuat Pluto dikeluarkan dari Tata Surya atau bahkan dikeluarkan dari Bimasakti. Kalau itu yang terjadi, maka betapa hebatnya para astronom yang berkonferensi bulan Agustus lalu sampai-sampai mampu ”menendang Pluto keluar dari Bimasakti” ;). Yang terjadi adalah kriteria planet didefinisi ulang dan dibuat kelas baru dalam Tata Surya yakni dwarf planet (planet kerdil).
Namun ternyata resolusi ini menyisakan ketidakpuasan juga karena definisi IAU mengenai “daerah disekitar orbit yang belum bersih disapu” dianggap lemah. Keberatan yang diajukan, orbit disekitar Bumi, Mars, Jupiter dan Neptunus pun belum bersih dalam arti ada asteroid di dalam lingkup sekitarnya. Jupiter sendiri masih memiliki 50.000 asteroid yang mengorbit di daerah sekitarnya. Selain itu definisi baru dari IAU juga dianggap rancu karena hanya diterapkan untuk definisi planet di dalam Tata Surya sedangkan saat ini planet tidak hanya ditemukan di dalam lingkup Tata Surya. Saat ini ada sekitar 205 planet yang telah ditemukan di luar Tata Surya.
Ketidakpuasan para astronom akan hasil IAU dinyatakan dalam petisi yang ditandatangani oleh 300 astronom yang memutuskan mereka tak akan memakai definisi baru dari IAU tersebut. Isi petisi tersebut sebagai berikut :
We, as planetary scientists and astronomers, do not agree with the IAU’s definition of a planet, nor will we use it. A better definition is needed.
Tampaknya dalam pertemuan IAU berikutnya di Rio de Jeneiro masalah definisi planet akan diangkat kembali untuk dibahas dan diperjelas. Lantas mengapa setelah bertahun-tahun baru definisi planet dibicarakan kembali?
Sedikit kilas balik, Pluto ditemukan tahun 1930, saat astronom mencari objek yang diperkirakan menyebabkan terjadinya perturbasi (gangguan) pada orbit planet yang sedang mengelilingi Matahari. Neptunus, planet ke-8 di Tata Surya sendiri ditemukan tahun 1846 setelah para ilmuwan menggunakan teori gangguan pada orbit Uranus untuk memprediksikan lokasi “planet ke-8″. Setelah beberapa dekade, pencarian planet ke-9 pun dilakukan dan Pluto pun ditemukan. Meskipun telah diangkat sebagai planet, status Pluto kemudian mulai dipertanyakan karena orbitnya lebih miring dan panjang dibanding orbit planet lainnya di Tata Surya dan massanya juga lebih kecil 1% dari massa Bumi. Analisis ulang yang dilakukan menempatkan Pluto sebagai solusi dari problem yang tak pernah ada.
Tahun 1951, dengan analisis orbit Komet, Gerrard Kuiper memprediksikan keberadaan sabuk komet di luar Neptunus - sekarang dinamakan Sabuk Kuiper - analog dengan sabuk asteroid diantara Mars dan Jupiter. Teknologi teleskop di tahun 1990an membawa penemuan berbagai objek di Sabuk Kuiper yang lebih kecil dari Pluto dan mengorbit Matahari. Dengan penemuan ini, tampaknya Pluto lebih cocok menjadi objek terbesar dalam keluarga Sabuk Kuiper dibanding menjadi planet bersama 8 planet lainnya. Namun selama Pluto merupakan objek terbesar dalam jajaran objek sabuk Kuiper, keberadaan Pluto sebagai planet belum menjadi suatu masalah.
Tahun 2005, astronom Mike Brown mengumumkan penemuan objek baru di Sabuk Kuiper, dengan nama panggilan Xena atau planet X, dimana objek baru ini sedikit lebih besar dari Pluto. Penemuan ini mengakhiri status quo kesembilan planet di Tata Surya. Jika Pluto cukup besar untuk menjadi planet, maka Xena pun seharusnya menjadi bagian dari planet di Tata Surya, atau dengan kata lain merupakan planet kesepuluh. Tapi lantas bagaimana dengan objek Sabuk Kuiper lainnya yang hanya sedikit lebih kecil dari Pluto dan bagaimana juga dengan penemuan-penemuan dimasa yang akan datang? Bagaimana memberi batasan yang jelas antara planet dan objek besar di Sabuk Kuiper? Hal inilah yang kemudian membawa IAU membahas dan menentukan kriteria apa itu planet.
Pada awalnya diajukan kriteria utama planet adalah memiliki bentuk bundar, dimana Pluto dan Xena pasti masuk menjadi bagian dari Planet. Namun pengajuan ini juga akan memasukkan Charon (satelit Pluto) dan 40 objek Sabuk Kuiper lainnya, serta asteroid Ceres. Namun kemudian kriteria planet dimodifikasi kembali dengan menambahkan “daerah disekeliling orbitnya telah bersih tersapu”. Ceres gagal masuk dalam kriteria ini, karena disekelilingnya masih banyak asteroid dan Ceres pun kembali menjadi asteroid. Charon juga kembali menjadi satelit bagi Pluto. Namun Pluto pun akhirnya kehilangan statusnya sebagai planet karena ia memang merupakan anggota dari Sabuk Kuiper.
Tak bisa dipungkiri, definisi ulang yang menyebabkan Pluto kehilangan statusnya membawa dampak “kontroversi” diantara para ilmuwan, sekolah bahkan politisi. Yah memang pada akhirnya buku-buku pelajaran harus dicetak ulang dengan mendefinisikan kelas baru di Tata Surya yakni planet kerdil. Model Tata Surya yang dijadikan alat peraga untuk pembelajaran pun harus diubah. Proposal penelitian planet mungkin harus dibuat kembali, anggaran yang sudah dibuat untuk penelitian planet mungkin harus dihitung ulang, kebanggan dan relasi Pluto dengan sebuah kota dan negara harus juga terusik…namun lmu pengetahuan memang akan terus bergerak maju dan perubahan akan terus terjadi.
Apa yang telah kita ketahui masih akan terus berkembang dan bisa saja apa yang diputuskan sekarang akan berubah seiring waktu karena alam semesta ini luas dan masih menyimpan banyak misteri. Berhasil menyingkapkan satu misteri hanyalah awal untuk menemukan misteri berikutnya. Satu penemuan baru adalah awal untuk penemuan-penemuan berikutnya.
Tags: Uncategorized
January 18th, 2007 · 2 Comments
Pictured below is an example of the strange, often spiral shaped objects found in the eastern Urals. Since 1991 more and more of these objects have been found in the region. Often microscopically small they are made principally of tungsten, molybdenum, and copper. They were discovered during the course of official explorations that had been mounted with a view to exploiting the precious metals in the region. Consequently geological and mineralogical analysis was done by the Central Scientific Research Institute for Geology and Prospecting for Precious and Non Ferrous Metals ( ZNIGRI ) in Moscow. The ZNIGRI put out a report in which the author, Dr Matveyeva states: “The layer which contains the spiral shaped objects is characterised as gravel and detritus deposits … From their orientation these layers can be dated to 100,000 years and correspond to lower regions of the Mikulinsk horizon of the upper Pleistocene.”
In plain language the Pleistocene is the previous geological epoch, which began about 2 million years ago and ended around 10,000 years ago. Contrary to what some commentators believe however, we don’t think that these objects are extraterrestrial in origin. Rather we think their origin is very terrestrial, the vestiges of a former hi tech civilisation, the evidence of which will become increasing apparent over the coming years.
http://forum.webgaul.com/showthread.php?t=52669&page=13
Tags: Uncategorized
January 18th, 2007 · 1 Comment
In 1991-93 gold prospectors on the river Narada in the eastern Urals, found thousands of unusual spiral shaped objects. Ranging in size from 1.2 inches to 1/10,000 of an inch they were often microscopically small. Significantly they were found at various sites near the rivers Narada, Kozhim and Balbanyu at depths of 10 to 40 foot. At such depths investigators could only conclude that they had been deposited thousands of years ago.
At present they are being investigated by the Russian Academy of Science in Moscow and St Petersburg and at a scientific institute in Helsinki, Finland. Stranger still, exact measurements of the objects show them to conform to the so-called ‘Golden Mean’ ratio used in Architecture and Geometry. For the technically minded that means that if a certain length is divided into two using this ratio, the ratio of the original length to the larger piece is the same as that of the larger to the smaller.
Quite apart from such subtle anomalies they appear to be the product of a highly advanced technology. In fact they bear a remarkable resemblance to control elements used in micro-miniature devices used in the latest technology, so-called nano-technology. Although still in its infancy scientists and engineers are already thinking are already thinking of applications for the ‘new’ technology that are the stuff of science fiction. Amongst other things they envisage constructing micro probes for use in medicine, such as performing operations inside blood vessels that are currently not possible with present surgical techniques.
All test carried out so far have dated the objects at between 20,000 and 318,000 years old, depending on the depth and location of the find.
http://forum.webgaul.com/showthread.php?t=52669&page=12
Tags: Uncategorized
January 17th, 2007 · 2 Comments
For more than 100 years the Antikythera Mechanism, a device salvaged from an ancient Roman shipwreck, has confounded scientists and academics. The device was lost when the ship that was carrying it sank in waters off the Greek island of Antikythera in 65BC. The wreck was found by a sponge diver in 1900. Anyone who has seen pictures of the Antikythera Mechanism knows that it is a technology that seems to be a product of the 16th or 17th centuries rather than the first century BC. I remember as a kid wondering whether it was a remnant of some alien civilization, or perhaps an artifact from Atlantis. The reality is even more interesting. Scientists now believe that the device was a complex and very accurate astronomical computer that could predict the positions of the sun, moon and planets, and even forecast lunar eclipses. The Antikythera device is the oldest-known device that used gear wheels and is by far the most sophisticated object from the ancient world. “This device is extraordinary, the only thing of its kind,” Mike Edmunds, a physicist at Cardiff University in Wales, is reported as saying. “The astronomy is exactly right … In terms of historic and scarcity value, I have to regard this mechanism as being more valuable than the Mona Lisa.” Using the latest technology, scientists have conducted detailed scans of the device, and have found that it dates to around 150 to 100 BC, and had 37 gears, including a differential gear. Previously it was thought that the differential gear was in invented in the 16th century. The complexity and small size of the gears is similar to the technology of 18th century clockwork. One theory on where on how the device came to be on a Roman ship was that it was on its way to Rome after being looted from Rhodes. The big mystery of course is why the technology for creating Antikythera device was lost. It should be a reminder to us that no matter how great and grand our technology, our world, and our life as we know it, is not immune to the same kinds of threats that have destroyed civilizations before ours.
Tags: Uncategorized
January 17th, 2007 · 3 Comments
Baru-baru ini arkeolog dari Eropa Timur menemukan gugusan piramida pertama yang ditemukan di sebuah lembah di Bosnia Tengah : di antaranya ada 2 gugusan kembar yang berbentuk piramida : arkeolog Jerman juga pernah menemukan sebanyak 24.000 barang-barang kerajinan jaman Neolitikum (zaman batu baru) di sekitarnya : para ahli menduga benda-benda tersebut kemungkinan merupakan peninggalan kaum Illyrian nenek moyang bangsa Albania.
Menurut laporan (harian Xinjing), penyelidikan arkeologi yang menghabiskan waktu 6 bulan yang dipimpin oleh arkeolog Bosnia Semiru Osmanagicovi, mendapati bahwa di Bukit Visocica juga terdapat piramida peninggalan manusia purbakala.
Bukit yang mirip piramida
Semiru Osmanagicovi menemukan lagi sebuah bukit lainnya yang berbentuk piramida di sekitarnya, ia melukiskan seperti piramida kembar di Amerika Latin, dua piramida melengkung menjadi sebuah pintu di pintu masuk lembah, sebuah lambang matahari, dan sebuah lambang bulan.
Piramida adalah lambang peradaban kuno bangsa Mesir, namun hasil penyelidikan arkeologi berulang kali menemukan bangunan yang mirip piramida di Amerika Tengah dan kawasan lainnya.
Semiru Osmanagicovi pernah menyelidiki sejumlah besar piramida yang terpendam di pegunungan di Meksiko, Peru dan kawasan lainnya, selanjutnya ia mengubah haluan ke kampung halamannya di Balkan. Bukit Visocica dengan tinggi 645 meter, selama ini dianggap mempunyai pemandangan alam yang unik, tampilan yang mirip bentuk piramida, namun berbeda dengan susunan batu raksasa piramida di Mesir, piramida yang satu ini diselimuti pepohonan.
Lima bukti yang membenarkan adanya piramida
Visoko, sebuah kota kecil yang terletak di Barat laut ibu kota Bosnia Sarajevo, memiliki sejarah yang tua, dan hingga kini reruntuhan Kota Visoko abad pertengahan masih tersimpan di atas puncak bukit.
Kegiatan arkeologi secara resmi baru mulai dilaksanakan pada musim panas tahun ini, setelah diteliti selama 6 bulan, Semiru Osmanagicovi mendapati ada lima faktor penting yang dapat membuktikan bahwa di dalam bukit ini terpendam piramida, dan merupakan piramida kembar.
Pertama menurut Semiru Osmanagicovi, bahwa lapisan beton yang kasar merupakan faktor utama, ini adalah bahan batu tuang yang bersejarah, namun, sekarang adalah bagian dari bukit, dan sudah ada sejak dulu, orang dulu mungkin merombak bentuknya, dan menutupnya dengan batu tuang.
Kedua Semiru Osmanagicovi juga mendapati adanya teras simetri di bukit itu. sehingga ia memastikan bahwa manusia jaman dulu pernah mengolah bukit tersebut, dan semuanya dilapisi dengan batu hampar yang di ambil dari alam. Dan yang ketiga adalah, permukaan bukit terdiri dari empat bidang, lagipula ke empat bidang yang miring itu mengarah ke sebuah titik utama, persis sekali dengan bangunan piramida. Keempat, ada pintu masuk yang rumit, di antaranya di sisi utara merupakan pintu masuk utama. Dan terakhir, ada saluran bawah tanah, sangat mirip dengan saluran bawah tanah piramida di Mesir, Meksiko dan kawasan lainnya.
Menurut Semiru Osmanagicovi, bisa dipastikan bahwa di bukit Visocica terpendam sebuah piramida, dan sejak dulu penduduk setempat menyebut bukit Visocica sebagai piramida. Arkeolog juga pernah menemukan barang-barang kerajinan tangan yang bersejarah 7.000 tahun di Visoko
Tags: Uncategorized
Beberapa waktu yang lalu, di Australia pernah ditemukan sebuah lukisan batu pada zaman batu, yang terlukis adalah sejumlah makhluk aneh setengah hewan setengah manusia. Menurut arkeolog, ukiran-ukiran batu tersebut adalah sketsa “pelukis” zaman kuno.
Dilaporkan bahwa, Paul Talcon ahli ukiran batu dari museum Australia di Sydney dan Christopher C ahli antropologi Australia bukan saja menemukan 32.000 lukisan batu manusia berkepala binatang dari sekian tahun silam di Afrika Selatan dan Australia, bahkan lukisan batu binatang berkepala manusia. Untuk pertama kalinya di dunia mereka melakukan penelitian terhadap lukisan-lukisan batu yang aneh ini.
Secara cermat para ilmuwan telah meneliti sebanyak hampir 5.000 lukisan batu nenek moyang manusia, dan disusun secara sistematis terhadap frekuensi munculnya maupun jenis spesies yang dilukisnya, menurut mereka, bahwa pada masa awal peradaban pernah eksis spesies setengah manusia setengah binatang, dan tidak tertutup kemungkinan itu adalah tetangga manusia primitif. Sebab manusia primitif tidak mungkin melukis sesuatu yang belum pernah mereka lihat.
Dalam legenda Romawi dan Yunani kuno juga cukup banyak cerita yang sama, di antaranya yang paling banyak disinggung adalah manusia setengah kuda. Binatang ini, anggota badan bagian atasnya adalah manusia, sedangkan anggota badan bagian bawahnya adalah kuda atau sapi, keledai, biri-biri atau bahkan kambing atau binatang lainnya.
Manusia binatang berhubungan erat dengan pengetahuan astronomi zaman dulu, bahkan manusia pada zaman purbakala memakai nama spesies ini sebagai nama rasi bintang yang kita kenal sekarang, seperti misalnya, Sagitarius. Setiap kali ketika Sagitarius (berbentuk setengah manusia setengah kuda yang memanah) muncul di malam hari, maka Taurus (salah satu lambang matahari) lalu bersembunyi dan lenyap seketika.
Tags: Uncategorized