Secret

Lukisan Batu Prasejarah Meninggalkan Misteri

January 17, 2007 · No Comments

Lukisanbatu Beberapa waktu yang lalu, di Australia pernah ditemukan sebuah lukisan batu pada zaman batu, yang terlukis adalah sejumlah makhluk aneh setengah hewan setengah manusia. Menurut arkeolog, ukiran-ukiran batu tersebut adalah sketsa “pelukis” zaman kuno.

Dilaporkan bahwa, Paul Talcon ahli ukiran batu dari museum Australia di Sydney dan Christopher C ahli antropologi Australia bukan saja menemukan 32.000 lukisan batu manusia berkepala binatang dari sekian tahun silam di Afrika Selatan dan Australia, bahkan lukisan batu binatang berkepala manusia. Untuk pertama kalinya di dunia mereka melakukan penelitian terhadap lukisan-lukisan batu yang aneh ini.

Secara cermat para ilmuwan telah meneliti sebanyak hampir 5.000 lukisan batu nenek moyang manusia, dan disusun secara sistematis terhadap frekuensi munculnya maupun jenis spesies yang dilukisnya, menurut mereka, bahwa pada masa awal peradaban pernah eksis spesies setengah manusia setengah binatang, dan tidak tertutup kemungkinan itu adalah tetangga manusia primitif. Sebab manusia primitif tidak mungkin melukis sesuatu yang belum pernah mereka lihat.

Dalam legenda Romawi dan Yunani kuno juga cukup banyak cerita yang sama, di antaranya yang paling banyak disinggung adalah manusia setengah kuda. Binatang ini, anggota badan bagian atasnya adalah manusia, sedangkan anggota badan bagian bawahnya adalah kuda atau sapi, keledai, biri-biri atau bahkan kambing atau binatang lainnya.

Manusia binatang berhubungan erat dengan pengetahuan astronomi zaman dulu, bahkan manusia pada zaman purbakala memakai nama spesies ini sebagai nama rasi bintang yang kita kenal sekarang, seperti misalnya, Sagitarius. Setiap kali ketika Sagitarius (berbentuk setengah manusia setengah kuda yang memanah) muncul di malam hari, maka Taurus (salah satu lambang matahari) lalu bersembunyi dan lenyap seketika.

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Puncak Cahaya Abadi

December 16, 2006 · 1 Comment

Ada sebuah tempat bernama "puncak cahaya abadi" di Bulan, yakni suatu
wilayah dimana Matahari tidak pernah terlihat tenggelam, demikian
diungkapkan para astronom.

Puncak yang selalu mendapat sinar Matahari itu ditemukan oleh tim peneliti
yang dipimpin Dr Ben Bussey dari Universitas Johns Hopkins, setelah mereka
mempelajari foto-foto kutub Bulan yang diambil oleh wahana penjelajah
Clementine tahun 1994.

Berdasar foto-foto itu dibuatlah suatu model film untuk mencari tahu
bagaimana cahaya mengalami perubahan di sana dari waktu ke waktu. Mereka
menemukan ada empat tempat di pinggiran kawah Peary –kawah selebar 73
kilometer– yang selalu mendapatkan cahaya sepanjang hari.

Puncak cahaya abadi

ada tempat di Bulan yang selalu mendapat cahaya terus meneurs, seperti di
bibir kawah ini

Mengapa tempat-tempat itu selalu mendapat cahaya Matahari? Untuk menjawab
pertanyaan ini, kita terlebih dahulu harus memahami bahwa sumbu rotasi
Bulan memiliki kemiringan sekitar 1,5 derajat relatif terhadap bidang
orbit Bumi mengelilingi Matahari. Akibatnya Bulan memiliki musim-musim
singkat dan kondisi pencahayaan khusus di kutub-kutubnya.

Kecilnya kemiringan sumbu berarti pula adanya dasar kawah-kawah dan
dinding-dinding kawah (yang menghadap ke arah kutub), yang tidak pernah
melihat Matahari sama sekali. Namun adakah puncak-puncak atau tonjolan
bibir kawah yang selalu diterangi sinar Matahari?

Sebelumnya ada dugaan bahwa tidak ada tempat di Bulan yang bisa disebut
puncak cahaya abadi. Diyakini tidak ada satu titik pun yang mendapat
cahaya permanen tanpa jeda, meski beberapa riset telah mengidentifikasi
ada beberapa wilayah di kutub utara yang mendapat penerangan selama 95
persen setiap harinya.

Nah, hasil analisa tim Johns Hopkins mengatakan bahwa pendapat di atas
mungkin terlalu dini disimpulkan. Disebutkan, tidak seperti kutub selatan
Bulan yang tidak memiliki pegunungan bercahaya abadi, kutub utara Bulan
ditengarai mempunyai puncak-puncak yang mendapat cahaya terus menerus
–setidaknya selama musim panas.

Berbicara di Konferensi Ilmu Pengetahuan Bulan dan Planet di Houston,
Texas, awal minggu ini, Ben Bussey menggarisbawahi cahaya abadi yang kini
terlihat itu bisa jadi merupakan efek musiman yang mungkin akan hilang
pada musim dingin. Sayang sekali, para ilmuwan tidak memiliki data
pencahayaan di sana pada musim dingin.

Basis Bulan utama

Bila dipandang dari program-program misi ruang angkasa, keberadaan puncak
yang diterangi cahaya tiap waktu di kutub utara Bulan, membuat lokasi itu
menjadi tempat tujuan menarik untuk penelitian serta untuk membangun
stasiun bulan yang pertama.

Lokasi dekat kutub utara Bulan yang mendapat cahaya secara konstan
pastilah merupakan lingkungan yang cukup ramah bagi manusia. Perubahan
suhu hariannya diperkirakan hanya sekitar 20 derajat Celcius, sehingga
operasional stasiun lebih mudah dibanding di ekuator bulan yang suhunya
bisa berubah 250 derajat tiap hari.

Selain itu, tim Bussey juga melihat wilayah luas yang selalu berada dalam
bayangan. Wilayah seperti itu bisa jadi menyimpan air beku di balik tanah.
Keberadaan air beku di wilayah berbayang ini sesungguhnya sudah
diidentifikasi oleh misi Clementine dan Lunar Prospector, serta juga telah
terdeteksi oleh radar radio teleskop di Arecibo, Puerto Rico.

Jadi, bila benar ada tempat-tempat bercahaya abadi di Bulan, yang
sekaligus dekat dengan sumber air (beku), maka misi ke sana pastilah makin
menantang dan menarik. (BBC/wsn)

→ 1 CommentCategories: Uncategorized

EKSPERIMEN PHILADELPHIA

November 16, 2006 · 3 Comments

Artikel ini telah dipindah ke Everything About World dengan beberapa keterangan tambahan

Menurut teori Albert Einstein, mengatakan bahwa dalam perhitungan-perhitungan ilmiah, manusia tidak hanya berurusan dengan tinggi, lebar dan panjang; melainkan juga dengan satu dimensi lain, yaitu waktu. Sebuah teori Einstein menyatakan bahwa konsep ruang waktu dan energi materi bukanlah dua kesatuan yang terpisah sama sekali. Keduanya bisa terjalin dalam keadaan tertentu. Dan kalau itu benar-benar terjadi, tidaklah mustahil benda bisa muncul dan lenyap secara mendadak, seakan-seakan mengalami proses dematerialisasi. Di mana proses pelenyapan pesawat terbang, kapal dan lainnya di Segitiga Bermuda tidak lain karena peristiwa ini.

Mungkin teori Einstein itu terlalu membingungkan. Penguraian teori yang rumit tersebut adalah sebagai berikut. Suatu muatan listrik pada sebuah kumparan tentu akan menciptakan medan magnetik tertentu yang menuruti arah kedua bidang tegak dan mendatar. Dengan jalan ini, mungkin sebuah medan lain (gravitasi?) dapat diciptakan menurut prinsip resonansi. Caranya ialah dengan menggantungkan sebuah generator elektromagnetik sedemikian rupa sehingga menciptakan pulsa-pulsa magnetik. Medan yang terjadi tersebut akan mengadakan “penyatuan” dengan kedua medan tegak dan mendatar itu.

Kalau kita mengembangkan pelaksanaan teori Einstein tentang “Unified Field” (penyatuan medan) yang menyatukan medan gravitasi dan elektromagnetik ke dalam teori ruang waktu, maka medan magnetik kalau cukup kuat akan dapat meyebabkan barang/benda atau manusia berubah dimensi dan menjadi tak tampak. Pandangan teori “Unified Field” kemudian disamakan dengan peristiwa segitiga bermuda. Dengan kata lain, kita pasti akan dapat membuat sebuah alat yang diinginkan oleh para penghayal yaitu “mesin waktu”.

Sekarang marilah kita mencoba mengikuti eksperimen Philadelphia. Secara tak sengaja Angkatan Laut Amerika Serikat menemukan praktek penyatuan medan ini ketika mengadakan percobaan rahasia di sebuah kapal perusak pada tahun 1943 (ketika masih Perang Dunia II). Karena percobaan dilaksanakan di Philadelphia, maka kemudian eksperimen ini lebih dikenal sebagai Percobaan Philadelphia.

Tujuan intinya adalah menyelidiki pengaruh medan magnetik terhadapa kapal laut dan seisinya. Dua buah generator, yang satu menghasilkan pulsa magnetik dan yang satu tidak dihidupkan bersama-sama sehingga tercipta medan magnetik diatas dan disekeliling kapal. Hasilnya memang mengejutkan dan memang sangat penting, meskipun menimbulkan akibat buruk pada awak kapalnya.

Ketiga eksperimen mulai dijalankan, tampak suatu sinar kehijauan samar-samar. Perlu diketahui, bahwa laporan dari orang yang selamat dari Segitiga Bermuda, mengatakan menyaksikan kabut kehijauan. Peristiwa selanjutnya yang terjadi ialah seluruh kapal kemudian terselimuti kabut hujau dan akhirnya kapal bersama awaknya menghilang dari pandangan pengamat dan hanya garis permukaan laut yang kelihatan. Kapal itu tampak dan menghilang lagi, tampak dan menghilang lagi di daerah Norfolk, Virginia. Jadi percobaan itu dapat dikatakan sesuai dengan teori Unified Field.

Menurut seorang bekas awak kapal perusak itu, percobaan berhasil baik di lautan. Mereka telah berhasil menciptakan “ruang waktu” berbentuk spiral. Ruang waktu itu mempunyai radius sampai seratus yard atau 91 meter dari pusat pancaran magnetik, yang artinya setiap benda, manusia bila berada dalam radius itu akan lenyap dari pandangan, tetapi masih mungkin dapat diraba. Ketika kapal itu lenyap dari pemandangan, hanya lekukan kapal pada permukaan air yang tertindih kapal itu yang kelihatan. Semakin diperkuat gaya medan magnetik, mengakibatkan manusiapun turut lenyap, dan untuk dapat diketemukan, harus dengan jalan rabaan. Mereka baru tampak kembali setelah keluar dari medan magnetik itu. Istilah pelenyapan itu oleh mereka disebut “sedang mencair”.

Memang percobaan itu kelihatan berhasil, tetapi memerlukan korban yang tidak sedikit. Ada orang (awak kapal itu) yang akhir nya meninggal, ada beberapa lagi yang kehilangan ingatan. Tetapi ada juga yang membawa akibat baik. Yaitu ada orang yang indera keenamnya bertambah tajam. Yang lucunya, beberapa orang masih membawa akibat percobaan itu, yaitu kadang-kadang dengan sendirinya lenyap dan muncul lagi, baik di rumah lebih-lebih bila dijalan/dimasyarakat dapat mengejutkan orang yang melihatnya.

Percobaan Philadelpia ini sebenarnya sangat dirahasiakan. Dengan percobaan ini sekaligus diketemukan sebab-sebab kecelakaan di Segitiga Bermuda dan pembuktian teori Einstein “Unified Field” ternyata benar. Einstein sendiri belum pernah mencoba, karena ia telah meninggal dunia. Teori ini entah sengaja atau tidak telah terbukti, sehingga para ilmuwan tidak lagi meragukan. percobaan ini mengingatkan kita pada piring terbang yang menghilang bila sedang terbang. Inipun antara lain disebabkan adanya medan magnetik yang berasal dari piring terbang itu, tentunya tanpa membawa akibat apa-apa bagi awaknya.

→ 3 CommentsCategories: Uncategorized

Pembangunan Piramida dan Candi Borobudur Dibantu Makhluk Angkasa Luar?

November 12, 2006 · 1 Comment

Banyak orang telah mengenal piramida. Piramida adalah bangunan modern pada masa purba yang terdapat di Mesir. Bangunan ini disusun bertingkat, makin ke atas makin kecil. Piramida terdiri atas ribuan bongkahan batu. Tiap batu mempunyai berat sekitar dua ton. Diperkirakan berat sebuah piramida mencapai jutaan ton. Bila dideretkan maka panjang batu pada piramida Cheops, piramida terbesar di Mesir, melebihi panjang pantai Amerika dari utara ke selatan.

Author: Djulianto Susantio
——————–


Bagaimana membuat piramida, berapa lama waktu untuk menyelesaikannya, dan berapa banyak orang yang mengerjakannya? Sejak lama para pakar masih belum bisa memberikan jawaban memuaskan. Hanya sebagian misteri yang berhasil diungkapkan, antara lain oleh arkeolog Inggris Howard Carter terhadap makam Tutankhamen di dalam sebuah piramida.
Carter dan tim ekspedisinya menemukan terowongan berikut tangga yang tersusun rapi dan sejumlah catatan tertulis. Di dalam terowongan itu terdapat makam raja dan keluarganya yang mayatnya sudah diawetkan (mumi). Perhiasan emas, prasasti yang berisi kutukan, dan gambar dinding. Perlu waktu puluhan tahun untuk melakukan ekskavasi di sini.

Eksperimen
Banyak pakar menduga piramida dibangun dari bagian bawah terus ke atas. Tangga naik, untuk meletakkan batu-batu di atasnya, menggunakan punggung bukit. Setelah bagian tertinggi rampung, maka bukit tersebut dipangkas habis. Dengan demikian yang tersisa hanyalah piramida.

Yang masih sukar diperkirakan adalah bagaimana membawa batu seberat dua ton ke atas. Kalau dengan kerekan, berapa besar kerekannya? Kalau dengan batang pohon, bagaimana menggelindingkan batu yang demikian berat itu? Masalahnya, salah perhitungan sedikit saja, nyawa terancam melayang. lni karena bentuk piramida Mesir sangat landai, tidak berundak sebagaimana piramida Amerika Selatan.

Ditafsirkan, piramida dikerjakan selama berpuluh-puluh tahun. Bahan bangunan kemungkinan besar berasal dari sepanjang sungai Nil dan daerah-daerah di sekitar tempat piramida berdiri.
Beberapa tahun lalu pakar-pakar Jepang, Prancis, dan negara-negara maju pemah melakukan eksperimen untuk membuat piramida tiruan. Mereka menggunakan alat-alat berat dan alat-alat modern, termasuk helikopter sebagai alat pengangkut batu.
Pada tahap pertama. mereka mengawalinya dari bagian bawah. Ternyata pembangunan piramida tidak rampung. Begitu pula ketika dimulai dari bagian atas.

Mengapa teknologi masa kini tidak mampu menyaingi teknologi purba? Benarkah pekerja-pekerja Mesir dulu dibantu tenaga gaib para jin dan dewa sehingga berhasil mendirikan bangunan supermonumental itu?

Piramida Mesir tidak dibuat sembarangan. Ada kaidah-kaidah tertentu yang harus ditaati. Pada bagian atas piramida terdapat sebuah lubang. Lubang ini menghadap ke arah matahari terbit. Hal ini tentu dimaklumi karena bangsa Mesir purba menganggap dewa Ra (Matahari) sebagai dewa tertinggi. Uniknya, bila bentuk piramida direbahkan ke atas tanah, maka sudut-sudutnya tepat berada di garis lingkaran. Dengan adanya bentuk demikian disimpulkan bahwa pembangunan piramida direncanakan dengan teliti. Apalagi bayangan matahari pada piramida tadi menunjukkan musim-musim yang ada di tanah Mesir.
Menurut sejumlah ahli Egyptotogi (pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan Mesir), makna simbolis pada piramida begitu besar. Tulisan-tulisan hieroglif menyiratkan ada unsur magis pada bangunan itu.

Candi Borobudur
Tahun 1930-an W.O.J. Nieuwenkamp pernah memberikan khayalan ilmiah terhadap Candi Borobudur. Didukung penelitian geologi, Nieuwenkamp mengatakan bahwa Candi Borobudur bukannya dimaksud sebagai bangunan stupa melainkan sebagai bunga teratai yang mengapung di atas danau. Danau yang sekarang sudah kering sama sekali, dulu meliputi sebagian dari daerah dataran Kedu yang terhampar di sekitar bukit Borobudur. Foto udara daerah Kedu memang memberi kesan adanya danau yang amat luas di sekeliling Candi Borobudur.

Candi Mendut
Menurut kitab-kitab kuno, sebuah candi didirikan di sekitar tempat bercengkeramanya para dewa. Puncak dan lereng bukit, daerah kegiatan gunung berapi, dataran tinggi, tepian sungai dan danau, dan pertemuan dua sungai dianggap menjadi lokasi yang baik untuk pendirian sebuah candi.

Candi Borobudur didirikan dekat pertemuan Sungai Eto dan Progo di dataran Kedu. Tanpa bantuan peta sulit bagi kita sekarang untuk mengenali kedua sungai itu. Untuk menentukan lokasi candi mutlak diperlukan pengetahuan geografi dan topografi yang benar-benar handal. Sungguh mengagumkan nenek moyang kita sudah memiliki pengetahuan seperti itu.
Bangunan Candi Borobudur dianggap benar-benar luar biasa. Bahan dasarnya adalah batuan yang mencapai ribuan meter kubik jumlahnya. Sebuah batu beratnya ratusan kilogram.

Hebatnya, untuk merekatkan batu tidak digunakan semen. Antarbatu hanya saling dikaitkan, yakni batu atas-bawah, kiri-kanan, dan belakang-depan.

Yang mengagumkan, bila dilihat dari udara, maka bentuk Candi Borobudur dan arca-arcanya relatif simetris! Kehebatan lain, di dekat Candi Borobudur terdapat Candi Mendut dan Candi Pawon. Ternyata Borobudur, Mendut, dan Pawon jika ditarik garis khayat, berada dalam satu garis lurus. Maka kemudian orang mereka-reka bahwa pembangunan Candi Borobudur juga dibantu para jin, dewa, dan ”orang pintar” lainnya.

Angkasa Luar
Tahun 1970-an muncul Erich von Daniken, seorang pengarang fiksi ilmiah (science fiction), yang bukunya sangat populer. Beberapa karyanya seperti Kereta Perang Para Dewa, Kembalinya Bintang-Bintang, Emas Para Dewa, Mencari Dewa-Dewa Kuno, dan Mukjizat Para Dewa berhasil membius jutaan pembacanya dengan khayalan yang sulit dipercaya namun dapat juga dicerna akal sehat.

Di dataran tinggi Nazca (Peru), demikian awal kisah, terdapat sebuah lajur tanah rata yang panjangnya lebih dari 50 kilometer. Para arkeolog menafsirkannya sebagai ”jalan raya bikinan bangsa Inca”. Namun von Daniken menganggapnya sebagai ”landasan bandar udara untuk melayani penerbangan antarbintang”, apalagi dia berhasil mengaitkannya dengan sejumlah temuan arkeologi.

Dengan imajinasinya von Daniken mengatakan pasti ada planet lain yang dihuni oleh makhluk sejenis manusia. Penghuni planet itu adalah makhluk-makhluk yang kecerdasan otak dan peradabannya melebihi manusia biasa. Berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu makhluk-makhluk ini berkunjung ke bumi mengendarai wahana antariksa yang dapat mengarung angkasa dengan kecepatan supertinggi. Ternyata khayalan von Daniken didukung oleh berbagai tinggalan arkeologi.

Pada sebuah peta dari Istana Topkapi di Turki, tergambar benua Amerika dan Afrika dengan di bawahnya daratan Antartika di kutub selatan. Penggambaran peta demikian hanya mungkin dilakukan melalui pemotretan dari jarak jauh di angkasa. Bila dicermati peta kuno itu sama benar dengan peta bikinan Angkatan Udara AS hasil proyeksi sama jarak dari titik tolak di Mesir.

Di Val Camonica (Italia) dan di Tassili (Gurun Sahara) terdapat lukisan dinding yang menggambarkan orang berpakaian seperti astronot zaman sekarang, lengkap dengan baju tebal dan helm. Bahkan helmnya menutupi seluruh kepala dan dilengkapi antena. Kalau begitu benarkah dulu pemah terjadi penerbangan angkasa luar yang dilakukan makhluk dari planet lain ke bumi?

Dalam perkembangannya makhluk dari angkasa luar itu berubah wujud menjadi tokoh dewa, sering dipuja masyarakat purba. Adanya dewa tergambar jelas dari mitologi dan berbagai kitab keagamaan di pusat-pusat kebudayaan kuno, seperti di Maya, Inca, Mesopotamia, India, Mesir, Yunani, Romawi, dan Indonesia. Dalam mitologi dan kitab keagamaan digambarkan para dewa bersemayam jauh di atas sana dan sewaktu-waktu dapat berkunjung ke bumi, baik dengan terbang secara langsung maupun menggunakan wahana antariksa.

Sampai kini kita belum dapat memberikan jawaban yang pasti apakah pembangunan piramida dan Candi Borobudur memang benar-benar dibantu makhluk dari angkasa luar ataukah keterampilan bangsa sekarang masih minim. Teori siapakah yang harus kita ikuti, teori von Daniken yang imajinatif dan bobot ilmiahnya kurang meyakinkan ataukah teori para arkeolog yang saintifik? Sayang teori yang saintifik itu masih misteri seperti halnya misteri yang masih menyelimuti piramida dan Candi Borobudur. (*)

Author adalah anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia

Source  : http://forum.webgaul.com/showthread.php?s=&threadid=52669&perpage=15&pagenumber=9

→ 1 CommentCategories: Uncategorized

The Ica Stones

November 12, 2006 · No Comments

Di sebelah utara Pampa Colorada, Peru terdapat Desa Ica, sebuah desa petani yang menjadi rumah seorang fisikawan Peru bernama Dr. Javier Cabrera. Pada 1966, tepat pada hari ulang tahunnya, seorang petani datang menemui Dr. Cabrera dan menyerahkan sebuah hadiah. Sebuah hadiah yang akan mengubah jalan hidup Dr. Cabrera selamanya.

Hadiah sederhana itu adalah batu kecil. Tampak tidak istimewa. Namun ada sebuah pahatan gambar menarik di batu itu. Gambar sebuah spesimen ikan yang tampak asing. Iseng-iseng Dr. Cabrera meneliti gambar spesimen itu dan betapa terkejutnya ia mendapati bhw spesimen ikan tsb adalah ikan purba yang telah punah ribuan rahun yg lampau.

Segera ia menanyakan pada petani sahabatnya dimana ybs menemukan batu kecil ini. Si petani menyebutkan lokasi sebuah gua dimana ia menemukannya. Dr. Cabrera lalu menjanjikan akan membeli batu-batu yang bergambar darinya jika si petani dapat menemukannya lagi. Pada akhirnya ia mendapatkan 15.000 lebih keping bebatuan yang menjadi koleksi pribadi Dr. Cabrera.

Kabar tentang bebatuan bergambar yang ditemukan oleh petani ini lalu menyebar luas dan didengar oleh BBC yang lalu mendokumentasikan penemuan batu-batu tsb. Berita yang dilansir BBC membuat pemerintah Peru penasaran dan mengadakan penyelidikan resmi. Mereka menginterogasi si petani tentang asal usul batu-batu itu. Pemerintah Peru mengancam, si petani akan masuk penjara jika berani menjual harta karun berharga negara tsb pada siapa saja (Peru mempunyai UU barang antik yang sangat ketat). Si Petani lalu mengubah ceritanya. Di versi cerita tsb ia mengatakan bhw ia mengambil batu-batu kali dan memahatnya dengan gambar-gambar menarik lalu dijual ke turis. Pemerintah tampak puas dengan penjelasan ini. Pemerintah lalu mengumumkan bhw batu-batu tsb tidak mempunyai nilai sejarah sama sekali kecuali hanya sekedar souvenir yang dijual pada para turis. Kecaman yang bertubi-tubi ditujukan pada BBC karena menyebarluaskan berita penemuan batu-batu yang tidak bermutu.

Batu kecil yang dimaksudkan sebagai hadiah itu lalu berubah menjadi penelitian seumur hidup bagi sang fisikawan. Dr. Cabrera mengerti bhw petani sahabatnya harus mengubah cerita agar tetap selamat. Apa yang membuat ia amat tertarik dengan bebatuan tsb adalah pahatan yang menggambarkan banyak hal-hal yang amat menakjubkan, yang tidak mungkin dipahat oleh seorang petani yang bahkan tidak menamatkan pendidikan dasarnya.

Maka selama 30 tahun terakhir dalam hidupnya Dr Cabrera mendedikasikan semua sumber dayanya untuk melakukan penelitian mengenai batu-batu tsb. Ia berusaha keras agar komunitas ilmuwan mau ikut berpartisipasi dalam penelitian ini. Usaha yang tidak mudah memang, karena stigma negatif telah tertanam dalam benak komunitas ilmuwan mengenai “bebatuan palsu” yang dipahat seorang petani Peru.

Tidak menyerah pada penolakan kaum ilmuwan, Dr Cabrera lalu membuka sebuah museum sehingga khalayak ramai dapat melihat-lihat batu-batu Ica ini. Minatnya yang begitu besar pada bebatuan Ica menghantarkan Dr. Cabrera menjadi seorang arkeologis dan geologis amatir selain minatnya yang besar pada dunia Fisika.

Dr. Cabrera mengkategorikan koleksinya berdasarkan subyek pahatan. Ada kategori manusia, hewan-hewan kuno, dan benua-benua yang hilang serta pelbagai macam bencana global.

Ada pahatan yang menggambarkan aliran darah dan arteri pembedahan jantung, transplantasi jantung bahkan transplantasi otak, pembedahan caesar dengan metode akupuntur sebagai anestesi, artificial life support system, dll

Ada pula batu yang menggambarkan peta Bumi dilihat dari udara dengan susunan benua yang sama sekali berbeda dengan yang kita kenal sekarang. Ketika gambar peta ini di perbandingkan melalui simulasi komputer maka para ilmuwan mendapatkan bhw susunan benua tsb sangat akurat dengan susunan benua kira-kira 13 juta tahun yang lampau di planet Bumi. (Peta kuno tsb juga menggambarkan benua Atlantis dan Lemuria).

Ada pula penggambaran manusia sedang mengobservasi planet-planet, komet dan susunan bintang-bintang. Beberapa lainnya menggambarkan manusia dan hewan spt dinosaurus hidup bersama, bahkan mengendarai si dino, di darat dan di udara! Gambar-gambar di bebatuan Ica sangat akurat, contoh gambar dinosaurus yang dipahat di batu, diketahui pernah hidup di Bumi, juga konfigurasi planet dan bintag-bintang semuanya tepat berada di orbit mereka.

Siapa yang membuat gambar2 di batu2 tsb? Good Question! Setelah meneliti selama 30 tahun, Dr. Cabrera punya teorinya sendiri mengenai Ica Stones. Teorinya begini:
Pada jaman baheulaaaaaaaaaaaaaaaaa pisan planet Bumi dihuni oleh sebuah peradaban yang amat advance yang kemungkinan besar datang dari Pleiades Star System. Mereka mendarat di Bumi dan mengkoloni planet ini. Bukannya beradaptasi dengan kondisi di Bumi, mereka berusaha mengendalikan alam di planet agar sesuai dengan kondisi mereka. Peradaban ini mencoba memanipulasi alam dengan kecanggihan teknologinya, namun usaha tsb gatot alias gagal total (viva mother nature!) Manipulasi alam dengan kecanggihan teknologi mereka malah mengakibatkan topan besar, banjir bandang, dan gempa bumi (banjir lumpur panas engga ada kali ye…. . Setelah sekian lama mencoba mengendalikan alam, akhirnya mereka nyerah dan bersiap-siap meninggalkan bumi kembali ke ibu pertiwi mereka di Pleiades. Mudiknya para alien ini digambarkan dalam salah satu pahatan bergambar.

Dr. Cabrera juga percaya bhw Pampa Colorada adalah spaceport peradaban kuno tsb. Ia menduga para alien pleiades menggunakan semacam energi elektromagnetik untuk menerbangkan pesawatnya. (salah satu bebatuan koleksi si doktor menggambarkan hal ini) Fakta juga membuktikan bhw Pampa Colorada mengandung deposit bijih besi dalam jumlah berlimpah yang dapat menambah kekuatan medan energi elektromagnetik.

Orang-orang yang mengenal Dr. Cabrera menceritakan bhw ia adalah sosok yang sangat ramah dan jujur. Ia juga amat berdedikasi terhadap penelitian Ica Stones. Rumor mengatakan bhw Dr. Cabrera mempunyai secret chamber di Museumnya. Ruang rahasia ini untuk menyimpan beberapa batu Ica yang sangat special. Disebut special karena –konon- batu-batu yang satu ini mempunyai “pesan bagi kemanusiaan”. Pesan2 ini dirahasiakan oleh pihak Museum Ica Stones sampai waktu yang tepat bagi umat manusia untuk mendengar pesan-pesan ini.

Karena teori-teorinya yang kontorversial dan karena antusiasmenya yang besar pada Ica Stones, Dr Cabrera di-asingkan dari komunitas Ilmuwan. Namun sampai akhir hayatnya ia tetap bersemangat melakukan penelitian pada Ica Stones. Dr. Cabrera meninggal dunia karena kanker pada Desember 2001. God Bless Him!

Beliau selalu mengatakan begini pada orang-orang yang meragukan keaslian batu-batu Ica: “Jika kalian pikir petani kawanku itu yang menggambar semua bebatuan Ica yang ia temukan maka ia haruslah seorang yang amat mendalami tentang susunan planet dan bintang, ia haruslah mempunyai pengetahuan advance medis, geologi. Geografi, paleoantropologi, paleoclimatologi, paleomagnetism, archaeoastronomy, archeology, dll.

Sceptics can’t explain how the farmer could carve more than 15.000 stones (other than to say that he’d had help), nor can they justify why an ignorant laborer would go to the trouble of doing all this just to sell rocks to tourist. Cynics also can’t account for those maps of ancient origin, which show how Earth looked in earlier days as confirmed by geologist using computer simulation. In other words, the Ica Stones still remain a mystery that no one can explain with any sort of incontrovertible proof – which, of course, is why they’re still a mystery.

Source  : http://forum.webgaul.com/showthread.php?s=&postid=2645944#post2645944

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Benua Atlantis itu (Ternyata) Indonesia ?

October 13, 2006 · 7 Comments

Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?

Plato (427 - 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Konteks Indonesia

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.

Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, "Amicus Plato, sed magis amica veritas." Artinya,"Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran."

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.***

Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis

www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/102006/02/0902.htm

→ 7 CommentsCategories: Uncategorized

Ditemukan Bulan Ke-2 di Sekitar Bumi

October 3, 2006 · No Comments

Astro

Asteroid berputar di sekitar bumi secara spiral, garis titik-titik warna biru adalah garis edar bumi, titik kuning adalah matahari, dan garis titik-titik warna hijau adalah garis edar planetoid yang mengelilingi bumi.

Penyelidikan NASA menunjukkan bahwa sebuah Planetoid atau asteroid yang diberi nama 2003 YN107 berputar di sekitar bumi secara spiral. Ia memiliki diameter hanya 20 meter, terlalu kecil hingga sulit diamati dengan mata telanjang. Perancang riset obyek perigeum (Titik lintas bulan, satelit dsb yang terdekat dari bumi) di laboratorium pendorong jet, NASA yakni Paul Chodas menuturkan, “Sejak 1999, 2003 YN107 sudah didekat bumi dan terus berputar di perigeum secara spiral. Karena ukuran asteroid ini terlalu kecil tidak akan menjadi ancaman bagi bumi”.

Tidak seperti asteroid yang banyak disekeliling Bumi, mereka hanya lewat melintas ketika mendekati bumi. Namun asteroid 2003 YN107 sejak kemunculannya terus tinggal di dekat bumi, dan menjadi bulan kedua-nya bumi. Asteroid seperti 2003 YN107 ini disebut “planet yang beredar bersama bumi”, yang mengorbit bersama bumi, mengelilingi matahari. Saat berputar di sekitar bumi dalam bentuk spiral. Chodas menandaskan, bahwa 2003 YN107 tidak mendapat dampak gravitasi bumi, seperti bulan bumi lainnya.

Saat ini, sudah diketahui ada 4 asteroid sejenis yakni 2003 YN107, 2002 AA29, 2004 GU9 dan 2001 GO2. Diperkirakan mungkin akan bertambah banyak, dan menurut Chodas bahwa seiring dengan kepekaan ukur asteroid, astronom akan dapat mengamati lebih banyak asteroid perigeum. Di antara ke -4 asteroid ini hanya 2003 YN107 dan 2004 GU9 yang jaraknya paling dekat dengan Bumi. Diameter 2004 GU adalah 200 meter, sudah beredar selama 500 tahun lamanya di sekitar bumi.

Saat ini, peneliti semakin lebih memperhatikan kondisi pergerakan 2003 YN107, yang perlahan-lahan meninggalkan bumi. Orbit pergerakan planet ini tidak simetris. Menurut hasil pengamatan pada 10 Juni 2006 lalu menunjukkan, bahwa jarak planet tersebut dengan bumi sejauh 3,4 juta km, lebih dekat daripada orbit sebelumnya. Gravitasi atau gaya berat bumi akan menggunakan sebuah gaya reaksi pada 2003 YN107, agar ia bergerak ke arah yang meninggalkan bumi. Namun, 60 tahun yang akan datang ia akan kembali mendekati bumi.

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Misteri Dunia Air Bawah Tanah di Meksiko

September 27, 2006 · No Comments

Semenanjung Yucatan di utara Meksiko bagaikan sebuah teras batu kapur yang rata dan rendah, ia terbentuk saat pergantian jaman baru, tepatnya pada 2 juta tahun silam dari dasar laut dangkal yang naik. Lubang batuan adalah ciri khas topografi batu kapur yang umum ditemui di semenajung Yucatan. Di barat laut semenanjung tersebut, arkeolog sudah menemukan gugusaan lubang-lubang batuan ini sejak dulu.

Gugusan lubang tersebut diduga kuat diakibatkan oleh ledakan besar. Kurang lebih pada 65 juta tahun silam, sebuah batu meteor dengan ukuran sebesar sebuah kota menabrak bumi sehingga membentuk sebuah kubang raksasa dengan diameter mencapai 200 km. Abu yang ditimbulkan akibat tabrakan ini menyelimuti segenap angkasa, sehingga mengubah cuaca, bahkan mengakibatkan banyak makhluk hidup di bumi mati dalam skala besar, termasuk dinosaurus.

Kolam Kristal
Di tengah hutan yang lebat di semenajung Yucatan, Meksiko, di luar dugaan tersebar ribuan “kolam kristal” yang misterius. Menurut laporan Reuters, para ilmuwan asal AS telah menemukan “kolam kristal” tersebut belum lama ini, yang sekaligus membuka cadar sesungguhnya dunia air bawah tanah. Hutan yang lebat ini menyembunyikan banyak “kolam kristal” tersebut, dimana ke dalaman salah satu “kolam kristal” itu dapat mencapai 160 meter lebih dalamnya.

Ribuan “kolam kristal” bawah tanah tersebut telah membentuk sebuah dunia air bawah tanah yang misterius. bangsa Maya kuno pernah menganggap, bahwa di sana merupakan pintu masuk menuju ke alam bawah tanah. Masyarakat setempat pun terus melegendakan, bahwa di dunia air bawah tanah yang misterius itu, terdapat setumpukan tulang belulang, dan emas yang membentuk seperti gunung.

Peneliti asal AS dan penjelajah melakukan penyelidikan terhadap sejumlah lubang sambil membawa tabung oksigen, lampu kedap air dan peralatan bawah air lainnya. Dari penyelidikan itu diketahui bahwa sesungguhnya “kolam kristal” ini adalah lubang batuan yang terbentuk dari gamping (batu kapur) yang terkikis air hujan permanen. Dan oleh karena air hujan disaring batu kapur sejenis bunga karang, maka air kelihatan sangat jernih dan bening, dan tampak seperti terbuat dari kristal.

Para penyelam petualang merasa seolah-olah melayang di angkasa ketika berenang di dalam air bawah tanah tersebut. Kolam-kolam kristal ini yang dangkal ada yang kedalamannya mencapai 1 meter lebih, sedangkan yang dalam tidak berdasar. Mereka pernah menyelami sebuah lubang bawah tanah, hingga di kedalaman 160 meter anehnya tetap saja tidak bisa sampai ke dasar.

Wajar saja kalau bangsa Maya pernah menjadikan kolam-kolam kristal tersebut sebagai kolam yang suci, dan mereka pernah memasukkan barang-barang perhiasan ke dalamnya untuk sembahyang leluhur. Dalam kehidupan sehari-hari bangsa Maya kuno, kubang-kubang ini menduduki status yang penting. Kubang tersebut juga menyediakan sumber air yang cukup bagi bangsa Maya, selain itu juga menyediakan tempat pemandian bagi mereka. Hingga sekarang, di sejumlah desa yang jauh terpencil di semenanjung Yucatan, orang-orang masih bergantung pada lubang bawah tanah seperti ini dalam kehidupannya.

Dalam keyakinan spiritual bangsa Maya, kubang-kubang ini juga merupakan tempat tinggal Dewa Hujan, sama seperti Istana Naga dalam legenda Tiongkok. Bangsa Maya mengandalkan mereka guna bersujud untuk memohon hujan. Bangsa Maya beranggapan, bahwa hujan di langit adalah hasil kunjungan Dewa Hujan, hanya dengan mempersembahkan “hadiah”, dewa hujan baru bisa hadir. Mereka memasukkan barang perhiasan ke dalam lubang, bahkan akan memilih gadis cantik dan diterjunkan ke dalam air, dengan maksud menyenangkan Dewa Hujan.

Spesies Baru
Selain kemisteriusan dunia air bawah tanah, di kawasan tersebut juga ditemukan lebih dari 40 species makhluk hidup baru berupa udang-udangan dan ikan. Di bawah lingkungan yang sulit, species tersebut bisa bertahan hidup. Makhluk air ini hidup dengan mengandalkan makanan dan oksigen yang terbatas di dalam air. Ini adalah penemuan pertamakali yang pernah diraih para ilmuwan Biologi. Ahli Biologi laut dari Universitas Texas yakni Tom Iriver menuturkan, “Disini sepenuhnya merupakan sebuah dunia yang unik. Hal-hal yang kami temukan disana, termasuk beberapa bentuk hayati di sana belum pernah ditemukan di tempat lain.”

Iriver mengatakan yang paling menggembirakan adalah telah menyaksikan beberapa bentuk makhluk hidup dan spons yang hidup di perbatasan air laut dan air tawar, besar kemungkinan mereka memiliki nilai pengobatan yang terpendam, dapat mengobati sejumlah besar penyakit fatal termasuk kanker. Namun, penelitian ini masih terlalu dini, kami masih perlu melakukan sejumlah besar eksprimen ilmiah.
Bahkan para ilmuwan juga menemukan sejumlah besar kerangka binatang prasejarah dan benda budaya kuno di kubang tersebut, termasuk tulang belulang kelinci dan bahkan tulang belulang mamut atau gajah purba yang hidup pada zaman glacial. Seorang penjelajah bawah air menuturkan, “Saat Anda keluar dari air, dan memberitahu kepada orang-orang bahwa di bawah sana ada gajah besar, maka dipastikan Anda akan dianggap gila, tapi faktanya memang demikian.”

Karena perkembangan penduduk dan eksploitasi pariwisata, sehingga susunan ekosistem “kolam kristal” tengah mengalami kerusakan. Selama 30 tahun di masa lalu, daerah yang pernah di huni bangsa Maya ini, jumlah penduduknya membengkak hingga 10 kali lipat lebih, mencapai 1 juta jiwa, ditambah lagi penduduk asal AS, Eropa dan sejumlah besar wisatawan dari daerah lain di dunia. Akibatnya dunia bawah air ini mendapat ancaman serius.

Para ahli lingkungan memperingatkan, bahwa usaha pariwisata setempat yang berkembang pesat dan sejumlah besar sampah yang diciptakan usaha pelayanan sudah mulai menimbulkan polusi terhadap lingkungan lubang batuan.

Kini pencemaran yang dihasilkan orang-orang setempat semuanya di buang ke dalam bawah tanah, sistem sungai di lubang dengan kedalaman 1 meter di semenanjung Yucatan telah mengalami pencemaran sampah sebanyak 250 ton setiap harinya. Setiap hari ratusan wisatawan menyusup ke lubang-lubang yang dibuka tersebut, dan dengan semena-mena merusak susunan ekosistem di dalamnya. “Kami sekarang membutuhkan sebuah rancangan yang matang dan cermat, yang dapat mengembangkan ekonomi setempat sekaligus melindungi dunia bawah air yang tak ternilai itu, jelas Mahert.

Ritual Bangsa Maya Kuno
Bangsa Maya kuno sepenuhnya yakin bahwa persembahan darah merupakan hal yang mutlak bagi eksistensi manusia dan dewa. Persembahan darah dapat memberikan kekuatan dan kekuasaan yang suci bagi manusia. Dengan sebilah pisau osidian, Raja menoreh organ reproduksinya sendiri, agar darah mengalir ke atas sehelai kertas dalam mangkok. Istri raja juga turut serta dalam upacara ini, mereka akan menggunakan seutas tali berduri yang kemudian ditusukkan ke lidah sendiri. Kertas yang dinodai darah akan dibakar, mereka percaya asap yang terbakar akan berhubungan langsung dengan alam dewata.

Sembahyang kepada dewa atau leluhur dengan menggunakan manusia hidup kadang juga terjadi dalam upacara keagamaan mereka. Biasanya orang yang dipilih sebagai persembahan kurban adalah nara pidana, budak, anak yatim atau anak haram. Sedangkan sembahyang dengan menggunakan hewan ternak lebih umum dibanding orang hidup, kalkun, anjing, tupai dan kadal dan hewan lainnya dianggap sebagai persembahan kurban yang paling pas terhadap segala dewa bangsa Maya.

Persembahan kurban manusia hidup dilakukan dibawah bantuan 4 orang tua yang disebut “Chac” (Konon katanya, upacara ini dilakukan demi untuk menyatakan penghormatan terhadap dewa hujan Chac bangsa Maya kuno). Ke-4 orang ini masing-masing menekan lengan dan kaki yang dipersembahkan sebagai kurban, sedang orang yang bernama “nacom” menoreh dada “persembahan kurban”. Selain itu, masih ada satu orang lagi yang turut serta dalam upacara yaitu juru tenung syaman (semacam agama primitif), konon katanya, dia menerima informasi saat dalam kondisi tertidur, makna yang terkandung dari ramalan yang didengarnya itu akan dijelaskan oleh beberapa tetua setempat.

Bangsa Maya meyakini, bahwa setelah manusia meninggal dunia, mereka akan masuk ke dunia bawah tanah melalui sebuah lubang, dan setelah raja meninggal akan masuk ke bawah tanah melalui orbit yang berhubungan dengan peredaran matahari; namun, karena mereka memiliki kekuatan supernormal, mereka akan hidup kembali di negeri langit dan menjadi dewa. Bangsa Maya sangat takut dengan kematian yang disebabkan oleh bencana alam, sebab setelah meninggal seperti tidak bisa masuk “surga” dengan sendirinya.

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Perahu Mesir Kuno Berumur 4000 Tahun Ditemukan

September 27, 2006 · No Comments

Reruntuhan kapal laut berumur 4000 tahun silam yang ditemukan dalam gua-gua buatan manusia menunjukkan bahwa orang Mesir kuno memiliki kemampuan mengarungi laut yang bergelora, berombak ganas untuk sampai ke “Pulau Dewata” yang dikenal dalam hikayat mereka bernama “Punt”.

Enam buah gua berbentuk batu karang, terpotong menjadi sebuah tebing yang curam di Wadi Gawasis, 21 km di sebelah Selatan Kota Port Safaga di Laut Merah, ditemukan oleh sebuah tim ilmuwan internasional, termasuk ahli perkapalan kuno, Cheril Ward dari Universitas Negeri Florida, Amerika Serikat. “Gua-gua tersebut pada masa lalu digunakan oleh orang Mesir kuno sebagai bengkel kerja dan gudang untuk melindungi peralatan dari keadaan padang gurun yang tidak bersahabat”, jelas Profesor Ward.

Masih menurut Profesor Ward, situs arkeologi tersebut bagaikan sebuah markas militer, dan artefak yang ada di sana menunjukkan adanya para administrator terbaik yang pernah dikenal dunia. “Ini merupakan situs yang telah menyimpan demikian banyak rahasia yang dimilikinya selama 40 abad,” ujarnya.

Pada papan-papan kayu, yang merupakan kayu kapal tertua di dunia, ditemukan cacing-cacing kapal yang menunjukkan bahwa pelayaran kapal tersebut berlangsung selama beberapa bulan. Cacing-cacing tersebut ditemukan bersamaan dengan kotak-kotak kargo, jangkar-jangkar batu, lebih dari 80 gulungan tali yang tersimpan dengan sempurna, dan sebuah lempengan batu bertuliskan lima nama ningrat dari Farao Amenemhat III yang berkuasa dari tahun 1844 hingga 1797 SM. Artefak-artefak tersebut tersimpan dengan sangat baik karena gua-gua tersebut ditutup rapat setiap kali perahu itu habis berlayar.

Pusat niaga di Punt, diperkirakan berada di Ethiopia atau di Yaman, berjarak 1600 km dari gua-gua tersebut. Bagaimana orang-orang Mesir kuno berlayar ke tempat ini, seperti yang ada dalam tulisan Mesir kuno pada kotak-kotak kargo yang ditemukan dalam gua-gua tersebut, sampai kini masih merupakan rekaan dan spekulasi. Banyak ahli tidak percaya orang-orang Mesir kuno memiliki teknologi pelayaran yang demikian maju, namun penemuan-penemuan di Wadi Gawasis memberikan bukti kuat yang menunjukkan bahwa orang-orang Mesir kuno telah memiliki kemampuan melakukan pelayaran jarak jauh.

Profesor Ward menginterpretasikan penemuannya lebih lanjut. “Pada sejumlah kayu masih tercantum nomor yang boleh jadi merupakan sebuah petunjuk dalam perakitan. Ward menduga kapal-kapal ini pada awalnya dibuat di galangan kapal di Sungai Nil, kemudian bagian-bagian kapal yang bisa dirakit kembali dibawa menyeberangi padang gurun sejauh 140 km menuju Laut Merah, dimana dilakukan perakitan dan peluncuran kapal.”

Ketika pelayaran telah selesai, kapal-kapal ini di bongkar kembali dan bagian-bagian yang telah dipisahkan satu sama lain siap diangkut pulang ke Sungai Nil untuk digunakan di kemudian hari. Menurut perkiraan Profesor Ward, sebanyak 3700 pria mungkin telah terlibat dalam seluruh ekspedisi ini. Pelayaran ini tertata dan terselenggara dengan sangat baik, namun tampaknya sebuah masa ketidakstabilan politik telah membuat pelayaran ini terhenti, lanjut Profesor Ward, dan meninggalkan gua-gua serta harta karun mereka terkunci selama 40 abad. Rincian studi ini akan dipublikasikan dalam penerbitan Jurnal Internasional Arkeologi Kelautan, dan sebuah studi lebih lanjut pada situs tersebut akan dilakukan tahun depan.

(Sumber:www.theepochtimes.com)

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Ditemukan Benda Langit Yang Tidak Mirip Planet

September 27, 2006 · 2 Comments

Baru-baru ini, sepasang benda langit ganjil yang baru ditemukan astronom, tapi mereka tidak mirip dengan dan bukan bintang tetap. Mereka dapat menjauhi bintang tetap dan mengapung di angkasa. Saat ini, para astronom masih tidak habis mengerti bagaimana pembentukan benda langit ini.

Dengan menggunakan teleskop astronomi yang terletak di selatan Eropa, Cile, astronom menemukan sebuah benda langit sebesar 7 kali lipat-nya Jupiter dan satu benda langit lain sebesar 14 kali lipatnya Jupiter. Mereka belum mengelilingi bintang tetap apapun, namun, saling berputar, konkretnya, galaksi yang dibentuk kedua benda langit ini disebut “Oph 1622”. Sebagaimana diketahui, benda langit datar sangat mirip dengan bintang kerdil coklat, namun, tidak termasuk dalam lingkup bintang tetap, ukuran mereka sangat kecil, dan tidak memiliki reaksi inti untuk pertahanan pembakaran yang dibutuhkan bintang tetap. Namun, ukuran mereka beberapa kali lipat lebih besar dibanding ukuran Jupiter, karena itu, ditilik secara makroskopik, ciri khas planetnya lebih besar dibanding bintang tetap. Saat ini, temuan ini dipublikasikan di majalah scientist yang terbit pada 4 Agustus lalu, dan akan dapat membantu astronom memastikan teori sekaligus menyingkap misteri pembentukan benda langit

Terbetik berita, bahwa hampir setengah bintang matahari sejenis memiliki benda langit yang mengelilinginya, 1/6 bintang kerdil coklat juga memiliki benda langit yang mengelilinginya, tapi, Oph 1622 adalah satu-satunya benda langit datar yang memiliki galaksi yang mengelilingi benda langit yang ditemukan saat ini. Pembentukan Oph 1622 sudah jutaan tahun lamanya. Jarak antara kedua benda langit yang saling berputar dalam galaksi tersebut adalah 6 kali lipatnya jarak antara jupiter dengan matahari. Melalui pengamatan dengan teleskop infrared angkasa Spitzer milik NASA, minimal di sekitar satu atau dua benda langit dalam galaksi tersebut memiliki struktur berbentuk piring yang terbentuk dari susunan debu dan gas.

Saat ini, spektrum benda langit datar dan hasil analisis warna secara jelas mengisyaratkan bahwa kedua benda langit muncul pada waktu yang sama, namun, ilmuwan masih belum dapat memastikan bagaimana mereka itu terbentuk.

Sebenarnya apakah kedua benda langit dalam galaksi Oph 1622 itu termasuk planet? Jika standar pengukurannya didasarkan ukurannya, maka, puluhan benda langit datar yang ditemukan astronom sebagian besar sesuai dengan standar ukuran planet. Astronom pernah menyatakan, bahwa untuk mengukur sebuah benda langit apakah termasuk dalam jajaran planet atau bukan, cukup dapastikan jika ukuran benda langit tersebut melampaui 13 kali lipat dari ukuran Jupiter. Namun, sejumlah besar ilmuwan mengemukakan perdebatannya, menurut mereka, bahwa untuk mengukur apakah benda langit itu termasuk planet tidak bisa hanya dengan berdasarkan besar kecil ukurannya, tapi harus mempertimbangkan proses pembentukannya secara konkret. Namun, yang dapat dipastikan ilmuwan saat ini adalah, bahwa proses pembentukan benda langit datar Oph 1622 berlainan sama sekali.

Saat ini, sebagian ilmuwan berpendapat, bahwa kedua benda langit Oph 1622 yang muncul secara bersamaan dan saling berputar ini mungkin awan gas yang menyusut dan dibagi menjadi 2 bagian sebelum kondensasi menjadi sebuah inti bintang tetap.

→ 2 CommentsCategories: Uncategorized